DETIKTV.CO.ID, TANGGERANG SELATAN — Kementerian Transmigrasi mendorong pemanfaatan teknologi dan ilmu pengetahuan sebagai fondasi baru pembangunan kawasan transmigrasi agar tidak lagi dipandang sebagai pilihan karena keterpaksaan, melainkan sebagai ruang hidup masa depan yang menjanjikan.

Gagasan ini muncul dalam kuliah umum bersama Peraih Nobel Kimia 2025, Prof. Susumu Kitagawa, tentang teknologi material berbasis udara (gas) dan pengembangannya untuk energi, lingkungan, serta kemandirian wilayah, di Auditorium Graha Widya Bhakti KST BJ Habibie, BRIN, Serpong, Rabu (4/2).

“Pertanyaan saya adalah, bagaimana perpindahan penduduk atau transmigrasi tidak lagi dipahami sebagai kebutuhan karena terpaksa, tetapi sebagai tindakan yang memberi dampak baik. Apa yang membuat orang ingin berpindah bukan karena harus, tetapi karena mereka percaya ada masa depan di sana,” kata Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara dalam sesi dialog.

“Budaya dan industri kita terlalu tersentralisasi. Sistem ini tidak sehat bagi masa depan. Kawasan-kawasan kecil harus mampu mengembangkan energinya sendiri. Untuk itu, kita perlu mengembangkan sains baru, terutama ilmu tentang udara. Udara ada di mana-mana dan tidak perlu diangkut dari satu kota ke kota lain,” ujar Prof. Susumu Kitagawa menanggapi pertanyaan Mentrans.

Menteri Iftitah menekankan bahwa persoalan utama Indonesia saat ini adalah konsentrasi penduduk dan aktivitas ekonomi di kota-kota besar, sementara banyak kawasan potensial di luar Jawa belum berkembang optimal.

Kemudian Mentrans menegaskan transformasi transmigrasi ke depan harus bertumpu pada keterhubungan antara penelitian, ilmu pengetahuan, dan pemanfaatan teknologi terapan. Kawasan transmigrasi tidak lagi hanya dibangun melalui pendekatan fisik dan sosial semata, tetapi juga melalui ilmu pengetahuan yang memungkinkan wilayah berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.

Menteri Iftitah juga menambahkan, untuk menjawab tantangan tersebut, pembangunan kawasan transmigrasi harus didukung oleh riset dan inovasi yang melibatkan ekosistem pendidikan tinggi. Saat ini, Kementerian Transmigrasi melalui Program Tim Ekspedisi Patriot secara aktif melibatkan perguruan tinggi dalam perencanaan, pembangunan, dan pengembangan kawasan transmigrasi.

Melalui Program Tim Ekspedisi Patriot, mahasiswa dan dosen terjun langsung ke kawasan transmigrasi untuk mengembangkan solusi berbasis riset, mulai dari teknologi energi, pengelolaan lingkungan, hingga penguatan ekonomi lokal. Ini adalah bentuk nyata keterhubungan antara ilmu pengetahuan dan pembangunan wilayah.

Prof. Kitagawa menerangkan bahwa gas atau udara merupakan sumber daya terakhir yang belum sepenuhnya dimanfaatkan manusia secara ilmiah. Melalui pengembangan material seperti Metal Organic Framework (MOF), udara dapat digunakan untuk menyimpan energi, memisahkan gas, dan mendukung teknologi ramah lingkungan.

Konsep tersebut dinilai relevan bagi pembangunan kawasan transmigrasi yang selama ini menghadapi keterbatasan energi dan infrastruktur. Dengan teknologi berbasis udara, kawasan transmigrasi dapat dikembangkan sebagai wilayah mandiri energi, ramah lingkungan, dan berdaya saing.

Ketua Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria menegaskan bahwa riset Prof. Kitagawa membuka peluang besar bagi Indonesia, terutama dalam konteks pembangunan wilayah dan ketahanan energi.

“Penelitian Prof. Kitagawa tentang MOF telah menghasilkan terobosan dalam penyimpanan dan pemisahan gas, pemurnian air, hingga aplikasi energi. Bagi Indonesia, ini sangat relevan karena salah satu prioritas nasional adalah keamanan energi,” ujar Ketua BRIN.

Prof. Arif menyebut teknologi penyimpanan gas berbasis MOF berpotensi mengurangi ketergantungan impor energi sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya lokal, termasuk di kawasan-kawasan baru seperti wilayah transmigrasi.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Prof. Brian Yuliarto menyampaikan bahwa kolaborasi riset antara perguruan tinggi, BRIN, dan mitra internasional menjadi kunci agar teknologi seperti yang dikembangkan Prof. Kitagawa bisa diterapkan di Indonesia.

“Kita harus memperkuat kolaborasi antara BRIN dan universitas-universitas di Indonesia agar penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi memberi dampak nyata bagi pembangunan nasional. Inilah contoh bagaimana ilmu pengetahuan kelas dunia dapat menjawab tantangan bangsa,” ujar Mendikti Saintek.

Melalui pendekatan berbasis sains dan teknologi udara, Kementerian Transmigrasi menilai kawasan transmigrasi dapat ditransformasikan menjadi pusat-pusat pertumbuhan baru yang tidak hanya layak huni, tetapi juga menarik bagi generasi muda, khususnya talenta muda dari perguruan tinggi yang terlibat langsung dalam pengembangan kawasan melalui program-program kolaboratif seperti TIM Ekspedisi Patriot.

Dengan demikian, transmigrasi ke depan tidak lagi dimaknai sebagai perpindahan karena keterbatasan, melainkan sebagai pilihan sadar menuju masa depan yang lebih berkelanjutan, mandiri, dan berbasis teknologi.

Prof. Susumu Kitagawa merupakan ilmuwan terkemuka dunia dari Kyoto University, Jepang, yang dikenal sebagai perintis pengembangan porous coordination polymers (PCPs) atau metal–organic frameworks (MOFs). Material berpori ini memiliki luas permukaan sangat tinggi dan struktur yang dapat dirancang secara presisi pada tingkat molekuler, sehingga berpotensi diaplikasikan secara luas di bidang energi, lingkungan, katalisis, pemisahan gas, hingga kesehatan. Atas kontribusi ilmiahnya yang fundamental dalam pengembangan MOFs, Prof. Kitagawa dianugerahi hadiah Nobel Kimia Tahun 2025.

Kunjungan ini diharapkan dapat memperkenalkan kapabilitas dan infrastruktur riset nasional sekaligus membuka peluang kolaborasi riset material berpori berbasis sumber daya alam dan biodiversitas Indonesia.

Melalui penyelenggaraan kuliah umum internasional ini, BRIN menegaskan komitmennya dalam memperkuat diplomasi sains Indonesia–Jepang, meningkatkan kualitas sumber daya manusia riset, serta mendorong kolaborasi global untuk menghasilkan inovasi material maju yang berdampak bagi pembangunan nasional. (Rdp)

Sumber: Tim Kementerian Transmigrasi

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia
📍 Jl. TMP Kalibata No.17, Jakarta Selatan 12750
📞 (021) 7994372
📧 humas@transmigrasi.go.id
🌐 www.transmigrasi.go.id