Keluarga Besar : Andy Tjandra Setiadji
Detik.TV : Sarana Pembaca Intelektual
JAKARTA – Kabar duka datang dari keluarga besar praktisi hukum sekaligus tokoh masyarakat Tionghoa Indonesia, Andy Tjandra Setiadji, S.H., M.H., Papa mertua beliau, Chang Fu Yin, meninggal dunia pada 4 Februari 2026 dalam usia 101 tahun.
Almarhum Chang Fu Yin dikenal sebagai sosok sepuh dalam keluarga yang meninggalkan jejak panjang kehidupan. Jenazah almarhum rencananya akan diberangkatkan pada hari Minggu untuk dimakamkan di Belitung, sebagai bentuk penghormatan terakhir dari keluarga besar.
Suasana rumah duka tampak dipenuhi ungkapan belasungkawa dari berbagai kalangan. Ratusan papan bunga berjajar rapi di sekitar lokasi rumah duka sebagai tanda penghormatan dan simpati dari rekan, kolega, kerabat, serta organisasi masyarakat. Selain papan bunga, rangkaian bunga segar juga menghiasi hampir seluruh sudut rumah duka, menciptakan suasana haru sekaligus penghormatan mendalam kepada almarhum. Kehadiran karangan bunga tersebut mencerminkan besarnya rasa hormat dan doa yang disampaikan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Andy Tjandra Setiadji sendiri dikenal sebagai praktisi hukum, pengusaha, serta tokoh masyarakat Tionghoa yang aktif dalam berbagai organisasi di Indonesia. Ia kerap disebut sebagai figur yang memiliki pengalaman organisasi luas dan berfokus pada pengabdian kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Tradisi Penghormatan dalam Adat Tionghoa
Dalam wawancara terpisah, Dr. Helex Wirawan, S.E., S.H., M.H. menjelaskan bahwa prosesi kematian dalam tradisi Tionghoa sarat dengan nilai penghormatan kepada leluhur serta filosofi kehidupan dan kematian.
Menurutnya, adat kematian Tionghoa merupakan rangkaian ritual panjang yang mencerminkan bakti kepada orang tua sekaligus keyakinan terhadap hukum karma. Prosesi ini umumnya meliputi beberapa tahapan penting.
Keluarga inti biasanya mengenakan pakaian berkabung berwarna putih sebagai simbol duka cita, dilengkapi dengan kain penutup kepala khusus. Jenazah almarhum dimandikan dan dipakaikan pakaian berlapis sebelum dimasukkan ke dalam peti mati dalam prosesi yang dikenal sebagai Jib Bok.
Selain itu, terdapat tradisi membakar kertas sembahyang seperti uang kertas, rumah-rumahan, hingga replika barang kebutuhan sehari-hari yang diyakini sebagai bekal perjalanan arwah di alam akhirat. Ritual ini dikenal sebagai Kong Tiek.
Pada malam sebelum pemakaman, biasanya dilaksanakan penghormatan terakhir atau yang disebut malam kembang, di mana keluarga dan pelayat berkumpul memberikan doa dan penghormatan.
Prosesi pemakaman atau Jib Gong dilakukan dengan mengantar jenazah ke liang lahat. Dalam tradisi tertentu, terdapat simbol memecahkan semangka sebelum peti jenazah diturunkan sebagai makna filosofis pelepasan dan perpisahan. Setelah itu, keluarga melakukan prosesi menabur tanah atau bunga sebagai penghormatan terakhir.
Masa berkabung juga menjadi bagian penting, khususnya bagi anak kandung yang mengenakan tanda khusus berupa kain kecil di lengan kiri yang menunjukkan hubungan kekerabatan dengan almarhum.
Menariknya, dalam tradisi Tionghoa, kematian pada usia sangat lanjut sering dipandang sebagai “kematian bahagia” atau perayaan umur panjang, sehingga dalam beberapa kasus, nuansa warna seperti merah atau pink dapat digunakan sebagai simbol penghormatan terhadap kehidupan yang panjang dan penuh berkah.
Pandangan Buddhisme tentang Kematian
Dr. Helex Wirawan juga menjelaskan bahwa dalam ajaran Buddhisme, kematian dipandang bukan sebagai akhir kehidupan, melainkan sebagai proses transisi menuju kelahiran kembali yang ditentukan oleh karma semasa hidup.
Dalam pandangan tersebut, kematian merupakan bagian dari hukum alam yang menunjukkan ketidakkekalan kehidupan (anicca) serta kenyataan bahwa setiap makhluk yang lahir pasti akan mengalami kematian.
Kesadaran seseorang diyakini akan mengalami tumimbal lahir atau reinkarnasi menuju alam kehidupan berikutnya sesuai dengan perbuatan selama hidup. Oleh karena itu, umat Buddha dianjurkan menjalani kehidupan dengan perbuatan baik, berdana, serta menjalankan nilai-nilai moral sebagai bekal spiritual.
Ritual Buddhis pada saat kematian biasanya meliputi pembacaan doa Paritta, persembahan dana, serta pelimpahan jasa kepada almarhum untuk membantu perjalanan spiritualnya. Kremasi juga sering menjadi pilihan karena dianggap mempercepat penguraian unsur fisik tubuh, meskipun tidak bersifat wajib.
Menurut Dr. Helex, momen kematian dalam Buddhisme dipandang sebagai saat yang sangat penting, di mana kondisi batin yang tenang, sadar, dan penuh kebajikan diyakini dapat membantu menentukan kelahiran kembali yang lebih baik.
Kepergian Chang Fu Yin pada usia 101 tahun menjadi refleksi perjalanan panjang kehidupan yang dihormati keluarga dan masyarakat, sekaligus mengingatkan nilai-nilai budaya, spiritual, dan penghormatan kepada leluhur yang tetap dijaga dalam tradisi Tionghoa hingga saat ini. Tutup
Editor: Hanan Fauzi

Keluarga Besar :
Andy Tjandra Setiadji
Tinggalkan Balasan